Tampilkan postingan dengan label psikologis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

Belajar Mengatasi Marah


Sebagai manusia normal, tiap-tiap individu sejak lahir sudah dianugrahi kemampuan akal dan perasaan. Keduanya bekerja setiap jam, setiap hari selama manusia yang bersangkutan masih bernyawa. Dari beberapa penelitian para ahli, akal dan perasaan saling mempengaruhi, ketika akal terlalu banyak beban, maka perasaan akan menjadi kurang enak, begitu juga sebaliknya, ketika perasaan seseorang sedang bermasalah, maka akal menjadi pendek dan sempit.

Salah satu dari sekian banyak produk perasaan adalah rasa marah. Marah memiliki pengertian berarti sangat tidak senang (krn dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dsb); berang; gusar: aku -- mendengar ucapannya yg kasar itu; bangkit (naik -- , timbul -- ), ki menjadi marah; (kamus bahasa Indonesia). Sedangkan menurut ahli Psikologi Chaplin (1998) dalam dictionary of psychology, menyatakan bahwa marah adalah reaksi emosional akut yang timbul kareana sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriyah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan, atau frustasi dan dicirikan kuat oleh reaksi pada sistem otomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik, dan secara emplisit disebabkan oleh reaksi seragam, baik baik yang bersifat somatis atau jasmaniyah maupun yang verbal atau lisan.

Berbagai faktor dapat memicu perasaan marah, baik faktor yg berasal dari dalam diri individu yang bersangkutan (internal), atau faktor dari luar diri individu yang bersangkutan (eksternal). Marah yang berlebih dan tidak bisa terkontrol biasanya akan muncul dalam perilaku, seperti merusak barang, memukul, dll. Hal tersebut dilakukan untuk melampiaskan energi dari marah. Dari perilaku dan efek yang ditimbulkan, marah lebih menghasilkan hal yang negatif daripada hal yang positif. Beberapa dampak negatif jika individu marah secara berlebihan antara lain :

Bahaya Fisiologi
Amarah dan kekecewaa yang terjadi akan mempengaruhi kesehatan seseorang. Hal tersebut akan menimbulkan hipertensi, stres, depresi, maag, gangguan pungsi jantung, insomnia kelelahan, bahkan serangan jantung. Bahkan amarah seorang ibu yang sedang menyusui dapat mengakibatkan peracunan yang berbahaya didalam air susunya. Mardin ( 1990 ) mereka yang memiliki mental lemah harus menyadari bahwa beberpa kekecewaan dapat mengorbankan hidupnya. Mereka mungkin tidak mengetahui, ternyata banyak manusia akibat dari marah yang berlebihan sehingga ia mati karena serangan jantung. Amarah juga bisa menyababkan berkurangnya nafsu makan, serta terganggunya otot dan saraf selam berjam-jam bahkan berhari-hari

Bahaya Psikologis
Secara psikologis amarah dapat membahayakan terhadap manusia kareana akan berimfikasi negatif, amarah juga bisa merusak pola pemikiran menjadi lebih pendek, bahkan dengan marah bisa memutuskan cinta kasih seseorang.

Bahaya Sosial
Watak pemarah akan mengakibatkan terjadinya disharmonis, seperti putusnya jalinan cinta kasih, putusnya persahabatan, kehilangan pekerjaan, terkena hukuman pedana, bahkan dengan permusuhan bisa menimbulkan penganiayaan dan pembunuhan.

Oleh karena banyak efek negatif dari marah dan perilaku yang ditimbulkan karena kemarahan, maka dianjurkan untuk dapat mengontol rasa marah. 

Dalam prakteknya jika orang sudah marah maka akan lupa banyak hal, dan sulit sekali untuk mengontrolnya, namun bukan berarti tidak bisa kita kontrol. Pada batasan tertentu tiap-tiap manusia memiliki potensi kontrol yang baik terhadap emosi yang merugikan, bagi yang tidak mampu hal tersebut tentunya dapat dilatih melalui beberapa terapi. Berikut terapi yang mungkin dapat berguna bagi mereka yang memiliki potensi kemarahan berlebih :
Terapi Psikologi
Banyak terapi yang disuguhkan oleh para ahli psikologi yang berkenaan untuk menanggulangi kemarahan yang diantaranya dikemukakan oleh ahli psikosibernetika Maxwell maltz ( 1980 ) menyarankan tiga langkah untuk mencegah kemarahan
1.  Pandanglah cermin lihat wajah sendiri yang sedang marah dan eksperikan bagai mana kelihatanya.
2.  Hilangkan energi yang meledak itu dalam suatu aktifitas
3.  Menulisnya surat yang keji denga kata-kata kasar sebagaimana layaknya kita marah.

Wayne Dyer ( 1977 ) mengemukakan sejumlah strategi untuk mengatasi kemarahan pada berbagai situasi yang mencakup 18 cara, yaitu;
  1. Selalu mengingatkan diri bahwa tidak perlu marah.
  2. Berusaha menunda kemarahan selama 15 detik 30 detik dan seterusnya
  3. Apabila sedang mengajari anak diperlukan kemarahan yang berpura-pura
  4. Tidak perlu marah terhadap yang tidak disukai
  5. Kita harus sadar bahwa orang lain berhak apa yang disukainya, dan kita tak perlu memarahinya
  6. Selalu meminta orang lain untuk selalu menasihati kita.
  7. Mempunyai buku catatan kemarahan.
  8. Mau mengumumkan bahwa anda telah  marah.
  9. Untuk menetrralisir dekatkanlah diri anda dengan yang dicintai
  10. Apabila setelah tenang bicarakan dengan orang yang anda marahi
  11. Gemboskan kemarahan anda pada detik pertama kemarahaan anda.
  12. Anda perlu ingat bahwa 50% orang tidak akan suka terhadap keputusan anda, jadi anda tidak perlu marah
  13. Mau menceritakan kemarahanya kepada orang lain
  14. Singkirkan pengharapan-pengaharapan kepada orang lain yang anda miliki
  15. Ingatkanlah diri anda bahwa anak-anak akan selalu aktif dan berisik jadi tidak perlu marah karena itu.
  16. Cintailah diri anda sendiri
  17. Dalam kemacetan lalulintas anda selalu mengecek seberapa lama anda tidak marah.
  18. Daripada anda menjadi budak emosional lebih baik anda berpikir untuk membuatnya sebagai suatu tantangan untuk merubahnya.
Terapi Relaksasi
Relaksasi Otot 
-       Relaxation via tension- relakation
-       Relaxation via letting go
-       Differential relaxation
Relaksasi Kesadaran Indra
Relaksasi Melalui Hipnose, Yoga dan Meditasi
-       Mengendorkan urat leher
-       Mengendorkan urat lengan
-       Memejamkan mata
-       Menyibukan diri
-       Memeriksa kepalan tangan
-       Melatih pernafasan
-       Berbicaa dengan tenang
-       Berusaha terbuka dengan teman yang amanah

Referensi
 




Senin, 10 Oktober 2011

Tidak Merokok adalah Bencana



Entah tujuan atau trend masyarakat jaman sekarang, yaitu tentang kesehatan dan konsep hidup sehat. Saya sendiri tidak begitu paham tentang hal tersebut, mungkin rada-rada nggak jelas gitu. Kenapa tidak jelas ? coba saja lihat dalam keseharian, lebih banyak waktu orang menjadi sehat daripada yang sakit bukan ? Sakit yang rutin paling 1 minggu atau 2 minggu sembuh, sisanya sampai bertahun-tahun jarang sakit. Mungkin pengecualian bagi yang sejak lahir kurang beruntung, memiliki potensi abnormalitas atau mengalami patologi pada organ serta fungsi organiknya sebagai manusia, tapi bagi yang normal, menjadi sakit itu bisa dihitung menggunakan jari aku pikir.

Sejak masyarakat berfikir tentang konsep hidup sehat itulah, entah sejak kapan juga kemudian mereka (masyarakat) mencari-cari penyebab timbulnya penyakit, dan kemudian mencoba memusnahkannya. Salah satu yang menjadi objek pemusnahan masal adalah ROKOK. Rokok dianggap sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya berbagai macam gangguan kesehatan, baik yg berhubungan dengan pernafasan, sampai pada persoalan kandungan dan tumbuh kembang otak (ini juga kata para ahli, entah ahli apaan). Upaya memusnahkan rokok inipun semakin hari semakin gencar dilakukan, mulai dari kebijakan/aturan larangan merokok, fatwa agama, sampai diskriminasi bagi perokok, yang mana ruang merokok di area publik semakin dipersempit.

Sebagai seorang perokok dan individu yang hidup dalam peradaban saat ini, hal tersebut rada janggal dan aneh. Janggal tatkala melihat kakek-kakek di desa perbukitan yang cukup pelosok bisa sehat sampai usia renta dengan kebiasaan merokok. Aneh tatkala melihat mereka yang ada di pedesaan tetap sehat wal'afiat tanpa sering terkena penyakit gangguan pernafasan padahal mereka merokok dengan intensitas dan frekuensi yang sangat tinggi. Aneh tatkala alim ulama dan ormas agama sampai membuat fatwa mengharamkan lintingan tembakau tersebut.

Ketika konsep itu menguntungkan sebelah pihak dan merugikan pihak lain, secara nalar sehat seharusnya bisa dikatakan sebagai konsep yang gagal. Konsep yang tak perlu direalisasikan menjadi kenyataan. Bayangkan saja, bagaimana jika tiba-tiba saja para perokok diseluruh dunia berhenti merokok ? Pasti juataan manusia akan menjadi pengangguran (buruh pabrik rokok), para penjual juga akan kehilangan salah satu komoditas jualannya, dan yang jelas bagi perokok akan mengganggu aktivitas kesehariannya karena harus beradaptasi baik secara psikologis maupun biologis. Secara luas, negara bakal kehilangan pemasukan atas pajak cukai tembakau serta akan mendapatkan beban ekonomi baru karena meledaknya jumlah angka pengangguran.

Mungkin benar secara kacamata kesehatan, bahwa merokok dapat merugikan dan mengganggu kesehatan. Tapi apakah secara ekonomi, sosial, budaya dan politik merugikan ? Telaah kritis terhadap kebencian pada rokok seharusnya juga perlu dikampanyekan. Secara psikologis dan biologis sejatinya jelas, bagi para perokok tidak merokok adalah bencana, ya tidak merokok adalah bencana bagi saya !!!